Pembaca yang budiman, jangan salah sangka. Kebangkitan Islam di akhir zaman, tidak harus menunggu Imam Mahdi. Oleh karenanya janganlah putus asa dalam memperjuangkan Islam. Kebangkita ummat islam di akhir zaman Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengatakan: Ketahuilah saudaraku sesama muslim, bahwa banyak dari Kaum Muslimin sekarang ini telah melenceng dari kebenaran dalam (memahami) masalah ini. Diantara mereka ada yang hatinya yakin bahwa Negara Islam tidak akan berdiri kecuali dengan munculnya Imam Mahdi, dan ini adalah khurofat dan kesesatan yang dilemparkan setan ke dalam hati mereka yang awam, terutama mereka yang dari kelompok sufi, padahal dalam hadits-hadits tentang Imam Mahdi tidak ada keterangan yang menyatakan seperti itu sama sekali. Bahkan semua hadits-hadits tersebut tidak keluar dari keterangan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wasallam– menyampaikan kabar gembira kepada Kaum Muslimin dengan munculnya seorang laki-laki dari keluarga beliau, dan bel...
Kisah Kiyai Kholil Bangkalan dan Santri 9 Tahun
Alkisah diceritakan, suatu kompilasi ada seorang anak kecil kira-kira membantah 9 tahun pergi nyantri ke Hadratus Syaikh KH. Kholil Bangkalan Madura.
Melihat keadaan bocah kecil ini Kyai Kholil tidak langsung mengajar ngaji karena khawatir tidak kerasan. Sambil menunggu, bocah selamat betah, Kyai Kholil memberi tugas pada santri kecil ini untuk membersihkan daun mangga yang jatuh dari pohonnya di depan ndalem Kyai Kholil. Si bocah ini menjalankan perintah gurunya dengan senang hati.
Pada malam hari turunlah hujan begitu lebat, Kyai Kholil keluar dan duduk di teras rumah. Dilihatnya ada satu anak yang tetap berhujan-hujanan di bawah pohon mangga jatuh daun mangga yang jatuh ke tanah untuk langsung dibersihkan.
Seketika itu Kyai Kholil memanggil anak ini, sangat kagetnya Kyai Kholil mengira dia adalah anak kecil yang diberi tugas membersihkan daun mangga bila ada yang jatuh dari pohonnya itu.
Melihat kejadian tersebut Kyai Kholil berkata kepada si kecil yang bernama Abbas itu,
"Wahai Abbas, bagaimanapun, masih kecil, tetapi dia memiliki ketaatan sungguh-sungguh bagi guru. Oleh karena itu cukup untuk kamu ngaji di sini sekarang."
Kyai Kholil bertakbir keras,
"Allâhu Akbar ... Allâhumma sholli 'alâ Sayyidin Muhammad. Pulang ... !! Mengajar ... !! Ilmunya ditanggung Kholil ... !!"
Seketika itu pula Kyai Kholil meminta Abbas kecil menengadah ke langit dengan membuka mulut dan Kyai Kholil meludahi mulut Abbas kecil, maka pulanglah Abbas kecil dengan derai air mata yang dituntut dengan amanah guru yang dicintai dengan amanah yang dibanggakannya.
Subhânallah ... Jadilah Abbas seorang kyai besar yang bertanggung jawab di Banyuwangi dengan santri yang luar biasa sekarang.
'Mencari ridlo Guru' rahasia besar sukses ulama, yang makin cepat sekarang.
Di samping keikhlasan sang guru itu sendiri yang tentu saja semakin sulit kita temukan sekarang. Contoh kecil, guru pondok tanpa gaji tetap mengajar mencari ridlo Allah dan ridlo kyai.
Kyai setiap sholat malam mendoakan santri, santrinya setiap ngaji kirim fatihah ke Kiyai. Kira-kira guru sekolah pernah nggak mendoakan murid-mnuridnya? Apalagi muridnya, juga gak pernah memfatehahi guru.
Lebih barokah mana ilmunya ?.
Sanad keilmuan dijamin silsilahnya. Guru pondok punya kyai, kyainya punya kyai, kyainya kyai punya guru sampai bersambung ke Kanjeng yang dilihat Rasulullah.
Kyai di pondok tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi ia adalah gambaran dari isi kitab itu. Santri bisa membuktikan akhlaknya kyai, zuhudnya kyai, wira'inya kyai, sabarnya kyai dan akhlak mulia lainnya.
Nah, tidak ada Jaminan yang menulis di internet dan di buku itu orang sholih dan mengamalkan ilmunya.
Belajar di pondok tidak banyak kecampur maksiat. Santri putra kelasnya dipisah dengan santri putri. Kalaupun jadi satu pasti dipisah tabir.
Di kampus belajar mata kuliah tasawwuf pas bab khouf. Eh, campur aduk laki-laki perempuan. Mengetik makalah bab khouf dan raja ' sambil chatingan sama pacar.
Ilmu itu nur (cahaya) sedangkan maksiat itu dhulm (gelap).
Mungkinkah cahaya campuran dengan kegelapan?
Allâhumma nfa'nâ bimâ 'allamtanâ wa' allimna lladzî yanfa'unâ -
Comments
Post a Comment