Pembaca yang budiman, jangan salah sangka. Kebangkitan Islam di akhir zaman, tidak harus menunggu Imam Mahdi. Oleh karenanya janganlah putus asa dalam memperjuangkan Islam. Kebangkita ummat islam di akhir zaman Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah mengatakan: Ketahuilah saudaraku sesama muslim, bahwa banyak dari Kaum Muslimin sekarang ini telah melenceng dari kebenaran dalam (memahami) masalah ini. Diantara mereka ada yang hatinya yakin bahwa Negara Islam tidak akan berdiri kecuali dengan munculnya Imam Mahdi, dan ini adalah khurofat dan kesesatan yang dilemparkan setan ke dalam hati mereka yang awam, terutama mereka yang dari kelompok sufi, padahal dalam hadits-hadits tentang Imam Mahdi tidak ada keterangan yang menyatakan seperti itu sama sekali. Bahkan semua hadits-hadits tersebut tidak keluar dari keterangan bahwa Nabi –shallallahu alaihi wasallam– menyampaikan kabar gembira kepada Kaum Muslimin dengan munculnya seorang laki-laki dari keluarga beliau, dan bel...
Biografi Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi
Bagi kalangan santri dan alim ulama, nama beliau sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai tokoh Mazhab Syafi'i yang menjadi pengajar di Masjidil Haram di kota Mekkah.
Kitab-kitab yang dia karang menjadi bahan ajar di berbagai pesantren dan perguruan Islam, baik di Indonesia, Asia Tenggara maupun di dunia Islam pada umumnya. Sebut saja misalnya buku Nihayatuz Zain dan Maraqil Ubudiyyah yang sangat populer itu.
Namun disayangkan, saat ini banyak generasi muslim di negeri ini sudah memilih salah satu ulama tokoh kebanggaan ini, padahal dia merupakan salah satu tokoh berbangsa melayu yang keilmuannya mengerti di negeri Hijaz.
Biografi Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani
Nama lengkapnya adalah Abu Abdul Mu'ti Muhammad bin Umar bin Arbi bin Ali Al-Tanara Al-Jawi Al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani.
Dia lahir di kampung Tanara, (sekarang masuk dalam kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang) Banten pada tahun 1813 M atau 1230 H.
Ayah beliau bernama Kyai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dari silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari Putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyara-ras (Tajul 'Arsy). Nasabnya bersambung dengan Muhammad melalui Imam Ja'far Assidiq, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ali Zain-Abidin, Sayyidina Husain, Fatimah Al-Zahra
Pada usia lima tahun Syekh Nawawi belajar langsung di bawah asuhan ayahandanya. Di usia yang masih kanak-kanak ini, ia pernah bermimpi bermain dengan anak-anak sebayanya di sungai, karena merasakan ia meminum air sungai tersebut hingga habis. Namun, rasa dahaganya tak kunjung surut. Maka Nawawi bersama teman-teman berikut-ramai pergi ke laut dan mengudara di udara.
Syahdan, kompilasi usianya memulai tahun, anak pertama dari tujuh bersaudara itu memulai peng-gembarannya mencari ilmu. Tempat pertama yang dituju adalah Jawa Timur. Namun sebelum berangkat, Nawawi kecil harus menyanggupi persyaratan yang diminta oleh izin,
“ Aku do'akan dan kurestui kepergianmu mengaji dengan syarat pulang dulu kelapa yang sengaja kutanam ini berbuah .” Demikian restu dan syarat sang ibu.
Dan Nawawi kecilpun menyanggupinya. Maka berangkatlah Nawawi kecil menjalankannya sebagai seorang muslim yang menuntut ilmu. Setelah tiga tahun di Jawa Timur, beliau pindah ke salah satu pondok di daerah Cikampek (Jawa Barat) khusus belajar lughat (bahasa) bersama dengan dua orang sahabatnya dari Jawa Timur.
Namun, sebelum diterima di pondok baru tersebut, mereka harus menerima tes terlebih dahulu. Ternyata mereka bertiga dinyatakan lulus. Namun menurut kyai barunya ini, pemuda yang bernama Nawawi tidak perlu mengu-langi mondok
“ Nawawi kamu harus segera pulang karena ibumu sudah menunggu dan pohon kelapa yang dia tanam sudah berbuah. ”Terang menyanyikan kyai tanpa masalah dari mana dia tahu masalah itu.
Tidak lama setelah kepulangannya, Nawawi muda dipercaya yang mengasuh pondok yang telah dirintis kepercayaan. Di usianya yang masih relatif muda, dia sudah tampak kealimannya jadi tampak mulai terkenal di mana-mana. Mengambil lebih banyak santri baru yang berdatangan dan asrama yang tersedia tidak lagi mampu menerima, maka kyai Nawawi berinisiatif pindah ke daerah Tanah Pesisir.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan un-tuk pergi ke Mekah menunaikan ibadah haji. Disana ia manfaatkan untuk digunakan bebe-rapa cabang ilmu, yang diharapkan adalah: ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadits, tafsir dan ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Makkah ia kembali ke daerahnya tahun 1833 M dengan khazanah ilmu agama yang relatif cukup lengkap untuk mem-bantu membantu mengajar para santri.
Namun hanya beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekah sesuai dengan impiannya untuk mukim dan menetap di sana. Di Makkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal. Pertama kali ia mengikuti bimbingan dari Syekh Khatib Sambas ( Penyatu Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Indonesia ) dan Syekh Abdul Gani Bima, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayyid Ahmad Dimyati, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang melengkapi di Mekah.
Sedang di Madinah, ia belajar di Syekh Muhammad Khatib Al-Hambali. Kemudian pada tahun 1860 M. Nawawi mulai mengajar di Lingkungan Masjid Al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup me-muaskan, karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia diterima sebagai syekh di sana. Pada tahun 1870 M, kesibukannya bertambah, karena ia harus lebih banyak menulis kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari sebagian besar koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang diterbitkannya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar ( syarh ) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis syarh selain permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering meng-alami perubahan ( ta'rif ) dan menggunakan.
Dalam menyusun karyanya Syekh Nawawi selalu dibuka dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia karena karya-karya beliau mudah difahami dan padat isinya.
Nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H./19 M. Karena kemasyhurannya dia mendapat gelar: Sayyid Ulama Al-Hijaz, Al-Imam Al-Muhaqqiq wa Al-Fahhamah Al-Mudaqqiq, A'yan Ulama Al-Qarn Al-Ram Asyar li Al-Hijrah, Imam Ulama 'Al-Haramain.
Syekh Nawawi cukup berhasil dalam mengajar murid-muridnya, sehingga anak didiknya banyak yang menjadi ulama kenamaan dan tokoh-tokoh nasional Islam Indonesia, artinya adalah: Syekh Kholil Bangkalan, Madura, KH. Hasyim Asy'ari dari Tebu Ireng Jombang (Pendiri Organisasi NU), KH. Asy'ari dari Bawean, KH. Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur-Purwakarta, KH. Abdul Karim dari Banten.
Syekh Nawawi Banten Sebagai Mahaguru Sejati
Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sebagian besar orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua. Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu 'Syarhul Muhadzab, Riyadhus Sholihin dan lain-lain. Melalui karya-karyanya yang tersebar di Pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama kyai asal Banten ini seakan masih hidup dan terus menyertai umat menyediakan wejangan agama Islam yang menyamankan-kan. Di setiap majelis ta'lim karyanya selalu dibuat rujukan utama dalam berbagai ilmu, dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat terkenal.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga mahaguru sejati. Nawawi telah banyak berjasa menempatkan landasan teologis dan membatasi-etis tradisi keilmuan di lembaga pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri pesantren yang sekaligus juga menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Kapan KH. Hasyim Asy'ari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru yang berkuasa. Di sela-sela pengajian buku-buku karya gurunya ini, membahas KH. Hasyim Asy'ari bernostalgia bercerita tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang-kadang mengenangnya sampai meneteskan udara karena mengharapkan kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
Karya dan Kitab karangan Syekh Nawawi Al-Bantani
Di samping digunakan untuk mengajar para muridnya, seluruh kehidupan dia banyak dicurahkan untuk mengarang beberapa buku besar jadi Konon saat ini masih diterbitkan judul tulisan tangan asli Syekh Nawawi yang belum diterbitkan.
Kitab-kitab karangan beliau banyak yang terbitkan di Mesir, diberikan beliau hanya mengirim-kan manuskripnya dan setelah itu tidak memperdulikan lagi bagaimana menerbitkan publikasi hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab itu akan menjadi hasil dari perumpamaan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah.
Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas Filipina, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu, Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan di Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Pada tahun 1870 para ulama universitas Al-Azhar Mesir pernah mengundang dia untuk memberikan kuliah singkat di forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia.
Karya-karya Syekh Nawawi al-Bantani
1.) al-Tsamâr al-Yâni'ah syarah al-Riyâdl al-Badî'ah
2.) al-'Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-Mubîn
3.) Sullam al-Munâjah syarah Safînah al-Shalâh
4.) Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah al-Jâmi'ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf
5.) al-Tausyîh / Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb
6.) Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-'Ain bi Muĥimmâh al-Dîn
7.) Marâqi al-'Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah
8.) Nashâih al-'Ibâd syarah al-Manbaĥâtu 'ala al-Isti'dâd li yaum al-Mi'âd
9.) Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄
10.) Qâmi'u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu'bu al-Imân
11.) al-Tafsir al-Munîr li al-Mu'âlim al-Tanzîl al-Mufassir 'an wujûĥ mahâsin al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma'nâ Qur΄an Majîd
12.) Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah
13.) Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah
14.) Nur al-Dhalâm 'ala Mandhûmah al-Musammâh bi' Aqidah al-'Awwâm
15.) Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts
16.) Madârij al-Shu'ûd syarah Maulid al-Barzanji
17.) Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî
18.) Fath al-Shamad al 'Âlam syarah Maulid Syarif al-'Anâm
19.) Fath al-Majid syarah al-Durr al-Farid
20.) Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry
21.) Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb
22.) Murâqah Shu'ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq
23.) Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ
24.) al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu'b al-Îmâniyyah
25.) 'Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain
26.) Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits
27.) Naqâwah al-'Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd
28.) al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-'Aqîdah
29.) Sulûk al-Jâdah syarah Lam'ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu'ah wa almu'âdah
30.) Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman
31.) al-Fushûsh al-Yâqutiyyah 'ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah
32.) al-Riyâdl al-Fauliyyah
33.) Mishbâh al-Dhalâm'ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwah al-Hukm
34.) Dzariyy'ah al-Yaqîn 'ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhid
35.) al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny
36.) Baghyah al-'Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm
37.) al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah
38.) Lubâb al-bayyân fi 'Ilmi Bayyân.
Wafatnya Syaikh Nawawi Al-Bantani
Pada tanggal 25 Syawal 1314 H. atau 1897 M, Syeikh Nawawi menghembuskan nafas terakhir di usia 84 tahun. Umat berduka atas kepergian beliau untuk selama-lamanya.
Dia kemudian dimakamkan di Ma'la di Kota Mekkah, dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Rasulullah SAW.
Dia sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khusus di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di Jum'at terakhir bulan Syawal selalu mengadakan acara haul untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.
Posisi Strategis Syeikh Nawawi untuk Dunia dan Indonesia
- 1. Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain adalah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Kiai Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di semenanjung Arab. Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya hingga 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan dengan makam istri Nabi Khadijah di Ma'la.
- 2. Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar "Sayyidu Ulama 'al-Hijaz" yang berarti "Sesepuh Ulama Hijaz" atau "Guru dari Ulama Hijaz" atau "Akar dari Ulama Hijaz". Yang menarik dari gelar di atas adalah beliau tidak hanya mendapatkan gelar “Sayyidu 'Ulama al-Indonesi” demikianlah, demikian halnya kealiman beliau dapatkan di semenanjung Arabia, tambahkan di tanah airnya sendiri. Selain itu, beliau juga mendapat gelar " al-imam wa al-fahm al-mudaqqig " yang berarti "Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam". Snouck Hourgronje memberi beli gelar "Doktor Teologi".
- 3. Pada tahun 1870, Syekh Nawawi mengundang para ulama Universitas Al-Azhar dalam sebuah seminar dan diskusi, sebagai apresiasi terhadap penyebaran buku-buku Syekh Nawawi di Mesir. Ini membuktikan bahwa ulama al-Azhar mengakui kepakaran Syekh Nawawi al-Bantani.
- 4. Paling tidak ada 34 karya Syekh Nawawi yang disajikan dalam Kamus Buku Cetak Arab. Namun demikian, beberapa karya lainnya menyebutkan karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari'ah, tafsir, dan lainnya. Sebagian karyanya juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-karyanya ini, pilihlah sebagai alim terpandang di Timur Tengah, lebih-lebih di Indonesia.
- 5. Kelebihan dari Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan makna terdalam dari bahasa Arab, termasuk sastera Arab yang sulit diakses, melalui syarah-syarahnya. Bahasa yang digunakan Syekh Nawawi memudahkan pembaca untuk memahami isi buku. Wajar jika syarah Syekh Nawawi menjadi rujukan, karena disetujui paling atas dan paling sesuai maksud penulis awal. Bahkan, di Indonesia dan beberapa lainnya, syarah Syekh Nawawi paling banyak digunakan yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan buku yang diterbitkan tanpa syarahnya.
- 6. Syekh Nawawi hidup di zaman di mana membantah Islam penuh menentang di antara yang berorientasi pada syari'at dan membahas hal yang menentang sufistik di satu sisi yang bertolak belakang yang mendukung sufisme lalu membahas syari'at di sisi lain.
- Kelebihan dari Syekh Nawawi adalah mengambil jalan tengah di antara menerima. Menurutnya, syari'at memberikan pedoman dasar bagi manusia untuk mencapai kesucian rohani. Karena itu, seseorang yang mempertimbangkan gagal jika yang melakukan panduan syari'at dengan yang baik, namun rohaninya masih kotor.
- Hal yang sama juga berlaku bagi seorang sufi. Mustahil ia akan mencapai kesucian rohani yang hakiki, bukan kesucian rohani yang semu, jika ia melanggar atau sebaliknya menabrak aturan syari'at. Selain itu, di masa lalu juga muncul yang secara ekstrem mengutamakan aqli dan mengabaikan naqli atau sebaliknya mengutamakan naqli dan membalik aqli.
- Namun Syekh Nawawi berhasil mempertemukan antara, dalil naqli dan aqli harus digunakan secara bersamaan. Namun jika ada pertentangan di antara kedunya, maka dalil naqli harus diutamakan.
- 7. Dalam konteks Indonesia, Syekh Nawawi merupakan tokoh penting yang diperkenalkan dan menancapkan penggunaan Teologi 'Asy'ariyah. Teologi ini merupakan teologi jalan tengah antara Teologi Qadariyah merupakan manusia yang memiliki kebebasan penuh dengan teologi Jabariyah yang menganggap manusia tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun yang melakukan kejahatan.
- 8. Cara berpikir jalan tengah kemudian diadopsi dengan baik oleh Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, banyak kalangan yang berpandangan bahwa NU merupakan institusionalisasi dari cara berpikir yang dianut oleh Syekh Nawawi al-Bantani. Selain pendiri NU, KH. Hasyim 'Asy'ari merupakan salah satu murid dari Syekh Nawawi al-Bantani.
- 9. Dalam konteks penjajahan, Syekh Nawawi al-Bantani menyatakan bahwa bekerja sama dengan penjajah Belanda adalah haram hukumnya. Karena itu, murid-murid Syekh Nawawi al-Bantani merupakan bagian dari sejarah perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Pemberontakan Petani Banten di abad ke 18 yang sangat merugikan Belanda, contohnya, merupakan salah satu contoh dari karya murid Syek Nawawi. Karena itu, wajar jika Syekh Nawawi menjadi salah satu objek "mata-mata" Snouck Hourgronje.
- 10. Berdasarkan penelitian Martin Van Bruinesen (bahasa Indonesia dari Belanda) setelah melakukan penelitian di 46 pesantren terkemuka di Indonesia ia melanjutkan kesimpulan 42 dari 46 pesantren yang menggunakan buku-buku yang diterbitkan Syekh Nawawi al-Bantani. Menurut Martin, sekurang-kurangnya 22 karangan Nawawi yang menjadi rujukan di pesantren-pesantren itu.
Cerita Seputar Karomah-Karomah Syekh Nawawi Al-Bantani
Ada banyak cerita yang dikeluarkan di kalangan santri tentang karamah-karamah yang disahkan oleh Syaikh Muhammad Nawawi Al-bantani, diucapkan:
1. Pada suatu malam Syekh Nawawi sedang dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. Dia duduk di atas 'sekedup' onta atau tempat duduk yang berada di punggung onta.
Dalam perjalanan di malam hari yang gelap gulita ini, ia mendapat inspirasi untuk menulis dan jika insipirasinya tidak segera diwujudkan maka akan segera hilang dari ingatan, maka berdo'alah ulama 'alim allamah ini,
"Ya Allah, jika insipirasi yang Engkau memberikan malam ini akan bermanfaat bagi umat dan Engkau ridhai, maka ciptakanlah telunjuk jariku ini ke lampu yang dapat menerangi tempatku di sekedup ini, sehingga dengan kekuatan-Mu akan dapat mencari inspirasiku."
Ajaib! Dengan kekuasaan-Nya, seketika itu pula telunjuk Syekh Nawawi menyala, menerangi 'sekedup'nya. Mulailah Beliau menulis sampai selesai dan telunjuk jarinya kembali padam Konon, kitab ini adalah kitab Maroqil Ubudiyah , komentar buku Bidayatul Hidayah karangan Imam Al-Ghazali.
2. Ketika tempat kubur Syekh Nawawi akan dibongkar oleh Pemerintah untuk memindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditum-puki jenazah lain (termasuk lazim di Ma'la) yang tersedia di kubur itu sebagai raja sekalipun. Saat ini para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (baca kafannya) masih lengkap karena sudah bertambah-tahun dikubur.
Karena itu, jika pergi ke Makkah, insya Allah kita akan dapat menemukan makam beliau di pemakaman umum Ma'la. Banyak juga kaum muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang Banten.
Syekh Nawawi Al-Bantani mampu melihat dan membantah Ka'bah tanpa sesuatu alatpun. Cara ini dilakukan oleh Syekh Nawawi kompilasi membetulkan Arah kiblatnya Masjid Jami 'Pekojan Jakarta Kota.
Makam Syech Nawawi al-Bantani
Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama harus kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota.
Lubang kubur yang dibongkar tetap terbuka hingga datang jenazah selanjutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa melihat bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama-sama kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap melepaskan satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk membebaskan kuburnya. Namun yang terjadi adalah hal yang tak lazim.
Para petugas kuburan itu menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan hanyalah satu jasad yang masih utuh. Tidak ada satu pun, tidak ada tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi dan membicarakan apa yang telah terjadi.
Setelah dikembalikan, sang atasan kemudian sadar bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah mengeluarkan membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Sampai sekarang makam beliau tetap di Ma΄la, Mekah.

Comments
Post a Comment